Sabtu, 07 Maret 2015

Rekam jejak pengajian ba’da Isya di pondok pesantren Muallimin Tegal Temu.

Gelap malam menyelimuti bumi kecil, dengan warna hitam yang menggugah kalbu, seolah mengajak kita untuk terus menyebut asmanya. Seiring dengan hembusan angin malam yang menusuk sukma, menggetarkan hati hingga kedasarnya. Pepohonanpun bergoyang, seraya ikut menari menyambut malam yang baru saja menetas beberapa waktu lalu. Begitu tenang dan sangat damai. Begitulah deskripsi alam yang sering kami jumpai pada setiap pengajian ba’da Isya akan di mulai. Dari dalam bilik kayu kecil namun tak menghilangkan aura estetika yang bagitu kental, mengingatkan kami pada masa sebelum kami ada. Pondok pesantren Muallimin Tegal Temu yang diasuh oleh salah satu ulama terkemuka di babakan KH. Zamzami Amin memang menawarkan suasana barbeda dengan pesantren-pesantren lain. Dengan Lingkungan yang masih asri dan bangunan tradisional masih tampak berdiri kokoh diantara hiruk piruk tatanan masyarakat modern. Suara riuh puji-pujian ikut melengkapi kenyamanan pondok pesantren tercinta kami. “ tholabul ‘ilmi, farydhotun ’alaa kulli muslimi” “ menuntut ilmu itu sangat diwajibkan atas semua orang muslim”. Karena semua itulah aku sampai rela meninggalkan kampung halaman beserta keluarga tercinta ku, juga kawan-kawan ku disana. Walau begitu, perasaan rindu kerap kali menyelimuti jiwa ini. Namun perasaan itu akan berangsur pergi ketika mendengar canda tawa teman-teman ku di pesanten ini pada saat pengajian akan segera dimulai. Mungkin sebenarnya mereka juga merasakan hal yang sama seperti ku. Namun hangatnya kebersamaan kami, sejenak melupakan rasa rindu itu. Aku juga yakin, petualangan kami dalam memburu ilmu di pesantren ini adalah sebuah kebaikan untuk kami, yang kelak akan menghasilkan kemuliaan untuk kami. Walau terkadang, dalam perjalanan kami menimba ilmu di pesantren ini penuh dengan berbagai cobaan, namun biarlah itu menjadi penghias pejalanan kami dalam usaha meraih kemuliaan yang suatu saat nanti akan tergapai. Dan kami pun sadar, derajat kemuliaan itu mengikuti kadar kemudahan dan kesulitan dalam menggapainya. ( beberapa menit kemudian), kami berkumpul di bilik Sunan Ampel. Terlihat jarum jam tengah berhenti di angka 8. Itu artinya proses transformasi ilmu sebantar lagi akan dimulai. Terlihat di sebelah kanan ku ada Valdi yang ku lihat dari matanya telah menunjukan ekspresi kantuk. Mungkin ia sudah kelelahan karena begitu padat rutinitas harianya. Ku lempar pandangan agak jauh ke utara. Di sana ku temui Zidan, Ojan dan Haidar tengah barcanda tawa. Begitu asik hingga membuat mereka lupa bahwa pengajian akan segera dimulai. Aku melirik sedikit kearah timur. Ku dapati sekawanan Trio Cakra yang bagitu kompak. Sepertinya mereka tengah menghapal tashrifan untuk di setorkan oleh pembimbing pengajian kami. Aku pun sedikit menghela nafas ku. Ku julurkan kaki ku sambil membuka buku bacaan ku. Hari ini kami akan mengaji ilmu shorof yang menurut para ulama adalah ibu dari segala ilmu. “ asshorfu ummul uluum. Wan nahwu, abuuhaa”. Artinya, “ ilmu Shorof merupakan induk dari segala ilmu. Dan ilmu Nahwu adalah bapaknya”. Beberapa saat kang Syafii datang. Ia adalah pembimbing ngaji kami. Ia memberi salam ketika memasuki pintu bilik kami. Dan kami dengan serentak menjawab sambil merapikan posisi duduk kami. Dan kami pun berdo’a untuk memulai pengajian kami. Pengajian ahirnya di mulai. Seperti biasa, sebelum kang pii menjelaskan bab yang akan di pelajari malam ini, ia menagih hafalan yang minggu kemarin ia tugaskan untuk kami hafalkan. Kami pun satu persatu menyetokan hafalan kami. Ada beberapa teman kami yang terkadang masih kurang lancar dalam hafalanya. Namun itu tidak menghalangi ku untuk tidak menyetorkan hafalan ku secara maksimal. Hingga ahirnya proses penyetoran hafalan pun berahir. Kini tiba saatnya untuk Pembimbing kami memaparkan penjelasan tentang bab yang kedua dari fiil tsulatsy mujarrod. Dimana bab kedua dari fiil mujarrod itu memiliki tanda ‘ain fiil madhi dibaca fathah, dan ‘ain fiil modhori dibaca kasroh. Dan setelah panjang lebar menjelaskan tentang bab kedua dari fiil tsulatsy mujarrod, Ia pun menyudahi keterangan yang di paparkanya. Apalagi ia melihat di belakang barisan sana, teman kami Akmal sudah dalam posisi telungkup. Kang pii pun kemudian bertanya kepada kami barang kali ada salah satu dari kami yang masih bingung tentang materi yang baru saja ia sampaikan. Namun ternyata seperti hari-hari biasanya, tak ada satupun yang bertnya. Mungkin menurut kang Syafi’i, itu merupakan pertanda baik di karenakan mungkin mereka semua sudah paham. Namun jujur saja aku ragu akan hal itu. Ahirnya berahir sudah waktu pengajian ini dimana kang pii menugaskan kami untu membuat resume kegiatan pada malam hari ini, juga tidak ketinggalan 2 nadhom tashrif di tugaskan kepada kami untuk bisa disetokan hafalanya dalam pertemuan minggu depan. Kang Syafi’i pun mengahiri pengajian ini dengan bacaan hamdalah di susul dengan, wallaahul muaafiq ilaa aqwaamitthoriq... Wassalamu’alaikum wr, wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar