Kamis, 22 Januari 2015

Menulis itu Dahsyat

Menulis Itu Dahsyat......... Menulis adalah suatu kegiatan yang mungkin bisa di bilang membosankan. Namun, itu adalah rasa yang biasa dirasakan oleh para penilis pemula. Berbeda ketika kita telah terbiasa menulis. Saya sendiri merasakan sesuatu yang sangat berbeda ketika saya baru mulai menulis. Ketika menulis, saya seperti berada di dimensi lain, dimana saat berada dalamnya, saya merasakan sebuah kenyamanan dan kedamaian yang luar biasa. Bosan pernah saya rasakan ketika saya pertama kali menulis. Namun, setiap hari saya memaksa diri saya untuk dapat membuat sebuah karya tulis, hingga kegiatan itu menjadi terbiasa. Untuk terbiasa menulis, saya mendapatkan banyak sekali motivasi dari orang-orang di sekitar saya. Salah satunya, kang Mutohirin. Dia seorang aktivis kampus yang sangat senang bahkan antusias ketika ada temanya yang tengah menulis. Dia akan memberikan cerita tentang kenalan-kenalanya yang telah berhasil menjadi penulis profesional. Saya sendiri mengagumi dia sebagai orang yang benar-benar tekun dan begitu menjiwai dunia organisasi. Salah satunya yang saya ingat adalah ketika ia menyanyikan lagu organisasi yang saat itu kami nyanyikan di taman. Tanpa malu-malu, dengan mengepalkan tanganya dan ditempelkan ke dada, kemudian dengan memejamkan mata, ia menyanyikan lagu itu tanpa ada sedikitpun tanda ia bergurau. Ia sangat serius dan khusyuk menyanyikan lagu tersebut. Untuk kalimat “menulis itu dahsyat”, saya dapatkan ketika saya sedikit menyimak cerita dosen saya, Pak Saiful. Beliau adalah salah satu dosen kampus kami yang dulunya pernah bekerja di media masa sebagai seorang wartawan. Beliau telah lama malang melintang di dunia perjurnalistikan. Ketika mengajar, beliau selalu bercerita tentang pengalaman menulisnya. Katanya, dulu ketika pertama kali belajar menulis adalah dengan cara langsung menulis dan dikirimkan ke media masa. Beliau langsung membombardir media masa-madia masa dengan semua tulisan-tulisanya tanpa kenal putus asa. Hingga ahirnya banyak tulisan beliau yang dimuat di media masa-media masa tersebut. Beliau juga pernah menceritakan bahwa beliau pernah membayar 3 semester kuliahnya dari hasil satu kali menulis saja. Bahkan, karena menulis, beliau jarang sekali dicap bodoh oleh teman-temanya. Namun, dari sekian banyak pengalaman menulis yang beliau gembor-gemborkan, ada beberapa pemaparan beliau tentang menulis yang membuat saya sedikit terkejut. keterangan dari beliau yang saya tangkap waktu itu adalah, menulis dapat meminimalisir beban pikiran kita. Itu di kerenakan beberapa kata atau masalah yang ada di pikiran kita telah tertuang ke dalam bait-bait tulisan kita. Menurut saya, tulisan dapat mengubah seagalanya. Bahkan perkembangan sebuah peradaban pun berawal dari sebuah tulisan. Karena, dari tulisanlah semua ilmu-ilmu pengetahuan bermula. Tanpa sebuah tulisan, para nenek moyang kita tidak akan mungkin mampu menyalurkan segala pengetahuan mereka untuk dapat dipelajari oleh para anak cucu mereka, sehingga, sebuah peradaban akan sulit berkembang . teknologi mutakhir yang ada di zaman yang serba canggih ini juga semua berawal dari sebuah tulisan. Yang saya pahami, tulisan juga mampu mengubah dan menumbuhkan karakter seseorang. Karena salah satu faktor yang mengembangkan pola pikir kita adalah dari apa yang kita baca. Ketika ada orang yang suka membaca buku tentang politik, maka ia akan selalu dan cenderung berpolitik dalam aktivitas keseharianya. Dari situlah saya berpikir tentang betapa dahsyatnya efek dari menulis. Ia mengembangkan burung menjadi sebuah pesawat terbang. Dan juga mengembangkan pesawat itu menjadi sebuah senjata yang mampu membumi hanguskan peradaban ini. Ketika kita ingin bisa menulis, kita harus banyak membaca. Karena dengan membaca, kita akan kaya kosa kata yang menjadi modal besar kita dalam melakukan aktivitas menulis. Dalam dunia perjurnalistikan, ada salah satu metode yang dirasa cukup ampuh untuk dijadikan sebagai latihan kita dalam menulis. Metode itu di namakan twenty minutes non stop. Dalam metode tersebut, kita dituntut untuk menulis selama 20 menit tanpa henti. Selama itu si penulis harus menuangkan semua yang ada di pikiranya menjadi sebuah tulisan. Ia harus merasa seolah-olah ia tengah dikejar dead line untuk penulisan sebuah berita. Lakukan metode tersebut dengan rutin setiap hari. Dengan begitu, anda akan terbiasa menulis. Dan saya yakin anda tidak akan pernah mengeluh ataupun kesulitan ketika dosen atau guru anda menyuruh untuk melakukan resume seluruh materi yang telah ia paparkan, atau bahkan membuat opini sebanyak 2000 kata untuk tugas ahir semesternya. Dalam pandangan islam, dengan menulis, kita juga dapat melakukan sebuah amal baik. Menurut saya, di dalam setiap tulisan pasti mengandung sebuah informasi. Dan setiap informasi pasti bermanfaat bagi siapa saja yang mengetahuinya. Semisal anda menulis ”orang yang bershodaqoh itu akan dibalas 70 kali lipat oleh allah”, kemudian ada orang yang membaca lalu melakukan apa yang ada dalam tulisan tersebut, maka dalam pandangan islam, anda sudah mendapatkan satu pahala dari menulis tulisan tersebut. Itu kalau anda menulis satu tuisan dan satu orang yang melakukan dalam satu hari. Apakah bisa anda bayangkan berapa pahala yang anda dapatkan, jika anda menulis 5 tulisan dan 10 orang yang membaca dalam satu hari. bagaimana jika anda rutin menulis selama 1 tahun. Bisakah anda bayangkan betapa banyak pahala yang anda dapatkan dari menulis tersebut. Ingat, banyak jalan menuju Roma. Banyak jalan juga menuju surga. Jika kita susah bangun malam untuk tahajud, atau malas melakukan puasa sunnah, mengapa tidak anda coba dengan menulis. Siapa tau anda dapat masuk surga karena menulis.hehe Sang pelukis langit, Minggu, 28 desember 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar