Sabtu, 07 Maret 2015

Nestapa Para Regenerasi

Senin, 02 maret 2015. Pukul 20.00 wib kembali kami singgahi. Di luar, cahaya rembulan dan bibtang-bintang tampak menghiasi piringan langit yang terhampar luas. Melengkapi keindahan malam ini. Dan kami seakan-akan terhipnotis untuk memjamkan mata karena kedamaianya. Walaupun kami hanya segerombolan bocah yang tampak begitu kecil dan belum mampu memberikan kontribusi banyak hal untuk pondok dan bangsa kami, namun, kami senantiasa memberikan usaha-usaha terbaik dalam mencari ilmu yang tujuanya adalah untuk membangun pondok dan bangsa kami. Mungkin layaknya taburan bintang-bintang di langit pada malam ini. Walau tampak kecil, namun sesungguhnya bintang merupakan objek raksasa yang begitu mengagumkan. Yang pernah saya tau dari buku bacaan yang pernah ku baca. Di angkasa sana begitu banyak bintang-bintang yang menjadi objek revolusi dari planet-planet lain salah satunya Matahari. Nah, mungkin ada yang bertanya mengapa matahari tampak begitu besar dan tidak seperti bintang-bintang lain?. Dalam penjelasan ilmu Astronomi, disebutkan bahwa Matahari adalah bintang yang paling dekat dengan bumi sehingga ia tampak lebih besar dari bintang-bintang lainya. Ada juga Proxima Centaury yang merupakan bintang yang berjarak terdekat kedua dari bumi setelah matahari. Konon jaraknya mencapai 300.000 kali jarak bumi dengan matahari yang dengan jarak seperti itu, kita tidak akan mampu untuk dapat melihatnya. Hanya dengan teropong baru kita dapat melihatnya. Juga Sirius yang merupakan bintang paling terang di galaksi kita, Bima Sakti atau Milki Way. Dan yang lebih menakjubkan ada Canis Majoris yang jika dibandingkan dengan ukuran matahari, maka matahari layaknya setitik debu. Dan yang saya tau dari buku-buku Astronomi, Konon dalam satu galaksi rata-rata dapat memuat 100 miliar bintang. Sungguh teramat luas kerajaan Allah SWT. Dan bintang-bintang senantiasa menghiasi langit di malam hari. ia juga merupakan teman-teman yang baik untuk sang rembulan. Malam tanpa rembulan terasa hambar dan tak sedap dipandang mata. Forum pengajian pun akan sama ketika tidak ada seorang guru yang membimbingnya. Setiap pengajian ba’da isya pada malam selasa biasanya dibimbing oleh kang pii. Ia mengampuh kitab “amtsilah tashrif” fan ilmu shorof. Bulan pun tak selamanya menemani dan menghiasi malam. Pun begitu kang Syafi’i. Karena malam ini ia tak kunjung datang. Terdengar kabar tadi sore ia sedang tidak enak badan. Mungkin kini ia tengah istirahat agar besok dapat mengikuti rutinitas mengaji bersama penagasuh kami, kang Zamzami. Ahirnya malam semakin larut, hingga membuat kami dengan sangat terpaksa membaca do’a tanda pengajian telah selesai. Walau kecewa karena hari ini kami tidak mendapatkan sedikit ilmu dari kang Syafi’i. Namun kami tetap semangat. Aku pikir, mungkin ini adalah rencana allah agar esok hari aku dan teman-teman ku belejar dengan lebih keras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar