Sabtu, 14 Maret 2015

Pembimbing ngaji

Malam selasa, 02 maret 2015 Gelap malam menyelimuti kalbu. Ku kayuhkan kaki ku untuk sebuah tujuan mulia. Tujuan yang pastinya dicita-citakan oleh seluruh kawan santri di pondok kami tercinta, Muallimin Tegal Temu. Pancaran sinar rembulan menerangi langkah ku yang kini mulai lelah. Ku tatap langit malam yang tersenyum melihat ku dengan segala keluh kesah yang terkadang tanpa sadar ku ucapkan. Namun kehadiran bintang-bintang seakan menghibur sekaligus menjadi obat lelah kami malam ini. Bilik tua sunan ampel yang berada tepat di belakang bilik kami akan menjadi persinggahan ku selanjutnya dalam proses pengembaraan ku dalam mencari ilmu. Di dalam sana sudah ada banyak kawan seperjuangan ku yang telah berkumpul. Tak sabar rasanya untuk segera bergabung dengan mereka. Dan setelah beberapa saat aku pun akhirnya sampai di depan pintu bilik. Di sana ku jumpai kawan dekat ku, ojan. Ku lihat juga ketua kelas kami yang saat melihat kami sempat melempar setengah senyumnya pada ku yang datang agak terlambat. Kulihat ia tengah sibuk dengan buku-buku yang selalu ia bawa dimana pun ia berada. Setelah beberapa saat aku duduk, terlihat dari balik pintu seseorang yang cukup tinggi dan begitu mengidolakan valentino rossi datang. Ia adalah pembimbing guru ngaji kami kali ini, kang pii. Ia akan kembali mencoret-coret papan tulis yang ada di depan kami dengan bentuk bagan dari pembagian bab yang ada di dalam kitab tashrif. Ia pun duduk di depan kami dengan sedikit senyum yang menghiasi wajahnya serta mengucapkan salam. Beberapa saat ia diam. Ku lihat ia sedikit bergumam yang kinibaru ku tau bahwa ia tengah bertawashul kepada para masayyikh ulama yang ada di babakan. Setelah selesai bertawashul, ia kemudian menyapa aku dan kawan-kawan dengan senyum yang lebih lebar. Ia pun berdiri dan mulai menjelaskan sedikit yang ia tau tentang ilmu shorof. Seperti biasa, di sisa waktu mengaji kami, ia memberikan pertanyaan tentang materi-materi yang dulu pernah disampaikan yang terkadang berujung dengan konsekuensi beberapa kawan ku berdiri karena salah menjawab. Dan aku merasa itu adalah season yang paling seru dan mungkin akan selalu ku kenang ketika aku pulang nanti. Kami tak jarang tertawa bersama karena jawaban salah satu kawan kami yang terkadang nyleneh dan asal jawab. Bahkan kami hampir lupa akan rasa rindu kami terhadap keluarga kami di rumah. Di temani dengan suara malam, kami tertawa lepas tanpa merasakan waktu yang kini mulai merangkak mendekati ahir dari kebersamaan kami ini. Terasa sangat hangat ketika kami bisa tertawa bersama. Aku akan sangat merindukan moment ini. Waktu memang begitu cepat berlalu. Kang pii pun duduk kembali dan memerintahkan kami untuk berdo’a tanda proses transformasi ilmu ini berahir. @Pelukis langit... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar